Oleh Noor Shodiq Askandar
Direktur Lembaga Manajemen Unisma Malang
Perjalanan sejarah telah menunjukkan, betapa banyak contoh wirausahawan sukses karena mampu merespon apa yang dibutuhkan pasar. Tidak sedikit pula yang gagal, karena mengabaikan kebutuhan pelanggan dan lebih asyik dengan imajinasi serta feeling dalam membaca pasar sebuah produk.
Kesuksesan, tentu tidak datang begitu saja. Perlu proses yang cukup lama, percobaan yang terus menerus, serta upaya yang tiada lelah untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan. Ciputra yang sekarang sangat sukses, memulai upaya yang sangat panjang dan berliku. Keberhasilan dan kegagalan adalah dua sisi mata uang yang kemungkinannya sama lima puluh persen (50%). Jatuh bangun dalam mengembangkan usaha, adalah sebuah keniscayaan. Yang terpenting, kita jangan terperosok dalam lubang yang sama. Akan tetapi kita harus mampu bangkit dariu lubang ketika kita terjerumus.
Kegagalan adalah sukses yang tertunda serta awal dari keberhasilan, begitulah kata sebagian besar orang sukses.
Seorang wirausaha sejati dalam menjalankan usahanya, harus memahami arah, tujuan dan sasaran pengembangan usaha serta posisi terhadap seluruh jenis usaha (mikro) dan sektor makro dengan mempertimbangkan faktor yang mengancam kelanjutan usaha. Berbagai langkah yang dapat dilakukan :
Pertama, penentuan posisi dan arah pengembangan usaha. Langkah ini dilakukan dengan melihat posisi usaha dalam berbagi lingkungan baik lingkungan usaha industri, maupun lingkungan jasa dan perdagangan. Usaha yang dijalankan harus dipahami betul pada posisi hulu, industri pengolahan, maupun industri hilir. Jika kita misalnya mengambil industri hulu penangkapan ikan, kita juga harus paham bagaimana menjadi pemasok perusahaan pengolah ikan. Ada baiknya kita juga tahu, kebutuhan ikan di pasar (jenis ikan, jenis olahan ikan, dsb). Dengan demikian, kita dapat melakukan spesialisasi dalam penangkapan ikan yang memang sangat dibuthkan pasar.
Kedua, struktur persaingan industri. Seringkali kita merasa, usaha sudah tertutup karena orang lain sudah melakukan. Begitu juga, terkadang kaget ketika pesaing muncul dan mengambil sebagian atau seluruh pasar atas usaha yang kita lakukan. Freemen mengungkapkan enam aspek yang perlu diperhatikan : ancaman pendatang baru, persaingan dalam perusahaan yang sama, ancaman produk pengganti, kekuatan tawar menawar pembeli, kekuatan tawar pemasok dan pengaruh kekuatan stakeholder lainnya.
Ketiga, Kehati hatian dalam melakukan ekspansi. Nafsu cepat besar dalam berusaha, bisa menjadi bumerang jika dilakukan serampangan. Perlu analisis mendalam agar tidak terjerumus dalam pertarungan pasar. Melakukan ekspansi boleh boleh saja, akan tetapi dilakukan dengan perhitungan yang matang dengan memperhatikan kekuatan usaha awal. Keliru langkah dalam posisi ini, bisa bisa usaha kita tutup semua. Yang baru masih belum jalan, sementara usaha awal (lama) tidak kuat lagi menanggung beban perluasan usaha. Cara yang lebih bijak, memperkuat yang lama agar mampu bertahan, selanjutnya baru melakukan ekspansi usaha.
Semua upaya ini dilakukan, untuk mengurangi risiko keagagalan usaha serta meningkatkan performa usaha yang akan dibangun. Memang benar prinsip dalam portofolio bisnis. Jangan taruh telor dalam satu keranjang, karena begitu terinjak akan pecah semua. Selamat mencoba.
Anda ingin berkonsultasi masalah wirausaha? silakan kirimkan email Anda ke: "Noor Shodiq" < This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it >
| < Prev | Next > |
|---|
- 07/09/2010 13:34 - Berani dan Professional
- 07/09/2010 13:33 - Belajarlah ke Negeri Cina
- 07/09/2010 13:30 - 8 Kesalahan Pebisnis Pemula
- 06/09/2010 15:22 - Strategi Harga
- 06/09/2010 15:19 - Menetapkan Nilai Tambah yang Tepat
- 06/09/2010 15:15 - Kesempatan Hanya Sekali
- 05/09/2010 15:57 - Bisnis Kreatif
- 31/08/2010 04:48 - Resep Sukses Berwirausaha Dengan Empat " Ti "
- 31/08/2010 04:46 - Usaha Dengan Modal Kecil, Mungkinkah?



Rubrik 















